Thursday, February 19, 2009

opini industri telematika

Septian
Sistem Komputer

1. Teknologi Telekomunikasi sebagai infrastruktur pembangunan dan sebagai komoditas?

Tidak dapat dipungkiri bahwa seperti halnya infrastruktur transportasi, jalan, dan listrik, teknologi telematika yang merupakan konvergensi dari telekomunikasi, teknologi informasi dan penyiaran memungkinkan terlaksananya aktivitas perekonomian dan sosial kemasyarakatan dengan lebih baik. Meski kontribusi sektor telematika dalam Pendapatan Nasional belum cukup signifikan, hanya sebesar 5.1% utuk tahun 2000 dan 5.8% untuk tahun 2001 namun dengan tersedianya infrastruktur dan layanan telekomunikasi dan informasi, sesungguhnya membantu aktivitas perekonomian, pendidikan, pemerintahan dan aktivitas di sektor lain untuk dapat lebih cepat berputar, lebih efisien berproses dan pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan di sektor lain selain telekomunikasi dan informasi.

Salah satu contoh dari dampak langsung pertumbuhan industri telekomunikasi dan informasi di Indonesia terdapat di majalah Warta Ekonomi edisi Maret 2001 yang mencatat ada sedikitnya 900 perusahaan dotcom di Indonesia pada saat booming bisnis e-commerce. Jika rata – rata setiap perusahaan menyerap 50 tenaga kerja ahli di bidang telematika, maka 45.000 tenaga kerja telah terserap dalam industri dotcom di Indonesia. Di bidang penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi, serta penyedia layanan Teknologi Informasi (TI), diperkirakan tidak kurang dari satu juta tenaga kerja terserap di sektor ini. Sayangnya, menyusul surutnya bisnis e-commerce dan kurangnya dukungan infrastruktur informasi di Indonesia menjadikan banyak perusahaan dotcom Indonesia kurang berhasil dibandingkan India atau negara lain.

Masalah infrastruktur telekomunikasi dan informasi akan semakin mudah dipahami apabila kita melihat wilayah Indonesia bagian timur yang dari sisi kondisi geografisnya cukup sulit untuk dijangkau dan mengakibatkan pembangunannya selalu tertinggal dari wilayah Indonesia lainnya. Dengan adanya teknologi telematika aliran informasi dapat diterima oleh penduduk di kawasan Indonesia timur pada saat yang bersamaan dengan penduduk di daerah lainnya, sehingga tidak terjadi masalah kesenjangan informasi yang akan berakibat pada kurang kompetitifnya daerah kawasan Indonesia timur. Demikian juga dalam hal pendidikan, dengan adanya teknologi telematika, hambatan untuk memperoleh pendidikan mulai dari jenjang sekolah dasar hingga tingkat tinggi dapat diminimalisir melalui tele-education. Perdagangan dapat dipercepat transaksinya dan perhitungan bisnis menjadi lebih akurat melalui e-commerce. Selanjutnya diharapkan pertumbuhan pembangunan akan terjadi dengan memberdayakan potensi daerah kawasan Indonesia timur itu sendiri.

Pembangunan sektor telekomunikasi diyakini akan menarik berkembangnya sektor – sektor lain, sebagaimana diyakini oleh organisasi telekomunikasi dunia, ITU, yang secara konsisten menyatakan bahwa penambahan investasi di sektor telekomunikasi sebesar 1% akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3%. Hipotesis ini telah terbukti kebenarannya di negara – negara Jepang, Korea, Kanada, Australia, negara – negara Eropa, Skandinavia, dan lainnya yang telah memberi perhatian besar pada sektor telekomunikasi, sehingga selain jumlah pengguna telepon (teledensity) meningkat, terjadi pula peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa Teknologi Telematika sesungguhnya merupakan bagian dari infrastruktur pembangunan.

Akibat arus globalisasi ekonomi dan kondisi di banyak negara infrastruktur telematikanya telah tersedia dalam jumlah yang cukup banyak, maka oleh lingkungan internasional, teknologi telematika khususnya telekomunikasi telah dianggap sebagai komoditas, dan oleh karenanya dalam aktivitas transaksinya selalu menggunakan perhitungan bisnis yang berorientasi profit. Indonesia yang juga tergabung dalam organisasi WTO, tidak terkecualikan dalam lingkungan global ini. Saat ini dapat dikatakan hampir tidak ada perusahaan-perusahaan penyedia jaringan dan layanan telekomunikasi di Indonesia yang tidak berorientasi profit. Pemerintah sendiri sudah sejak beberapa tahun terakhir tidak pernah lagi mengalokasikan dananya untuk membangun infrastruktur telekomunikasi. Tugas pembangunan infrastruktur telekomunikasi dibebankan kepada swasta atau BUMN. Dari penjelasan ini, maka infrastruktur telekomunikasi dan informasi telah menjadi komoditas. Dengan memperlakukan infrastruktur telekomunikasi dan informasi sebagai komoditas, diharapkan pemerintah tidak perlu terlalu jauh mengatur kompetisi dalam penyediaan komoditas, dan mulai menyerahkan pengaturannya kepada mekanisme pasar.

Namun harus disadari bahwa belum seluruh penduduk Indonesia dapat menikmati manfaat dari infrastruktur telekomunikasi ini, bahkan Indonesia termasuk negara yang memiliki jumlah infrastruktur telekomunikasi yang rendah di dunia. Meskipun duopoli dalam kompetisi di sektor telekomunikasi telah diberlakukan, tampaknya aturan pasca duopoli masih perlu diperbaiki agar lebih banyak masyarakat yang dapat memperoleh manfaat layanan telematika. Oleh karenanya penanganan masalah telekomunikasi dalam menyikapi lingkungan global dan kebutuhan penyediaan infrastruktur domestik perlu dilakukan secara hati-hati dan terencana mengingat berbagai permasalahan yang terdapat di dalam sektor yang terkonvergensi ini dan kaitannya dengan keterhubungan infrastruktur luar negeri yang cukup kompleks.

Untuk permasalahan penyiaran, perlu dipikirkan secara sungguh-sungguh penanganan masalah lembaga penyiaran publik, masalah kepemilikan silang dan kepemilikan asing dari lembaga penyiaran swasta dan masalah konten yang memerlukan kejelian dalam menyesuaikannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan aspek sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

isu telematika

Septian
Sistem Komputer

Strategi dan Kebijakan Pembangunan Telematika

Bagi sementara pihak, sektor Telematika (telekomunikasi, teknologi
informasi, dan multimedia) masih dianggap sebagai sektor yang kurang menarik
untuk dibicarakan terutama dalam konteks diskursus politik praktis. Padahal, sektor
Telematika memiliki posisi strategis dalam kontribusinya terhadap perencanaan dan
implementasi strategi pembangunan ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan
keamanan nasional.
Permasalahan Umum
Permasalahan di sektor Telematika, sebetulya tidak beranjak jauh dari tahun
ke tahun. Persoalan yang belum teratasi terus berkutat di seputar masih rendahnya
infrastruktur jaringan telekomunikasi; rendahnya penetrasi Internet; pasar yang masih
dikuasai oleh pelaku dominan; masih relatif rendahnya kontribusi sektor Telematika
terhadap Pendapatan Nasional; makin terbukanya entry barrier bagi produk dan jasa
asing untuk masuk ke Indonesia, sementara produk dan jasa Indonesia di bidang
Telematika yang diekspor ke luar negeri masih rendah dan seringkali tidak mampu
bersaing di pasar global; permasalahan pro dan kontra menyusul divestasi BUMN
telekomunikasi; permasalahan Struktur; Perilaku dan Kinerja industri Telematika
Indonesia terutama konsekuensi setelah berlakunya Undang – Undang Nomor 36
tahun 1999 tentang Telekomunikasi; belum adanya kerangka hukum yang mengatur
tentang cyberactivity dan cybercrime; serta belum adanya upaya serius dari
pemerintah untuk memberi perhatian sepenuhnya terhadap pemanfaatan Internet dan
dampaknya
Kontribusi Telematika
Kontribusi sektor Telematika kepada Pendapatan Nasional baru mencapai
5,1% untuk tahun 2000 dan 5,8% untuk tahun 2001. Belum cukup signifikan, namun
demikian aktivitas sektor ini cukup memberi warna tersendiri dalam perekonomian
nasional. Ditandai dengan mulai maraknya sekelompok anak muda membangun bisnis
baru menggunakan teknologi Internet, maka Indonesia tak ketinggalan dalam
booming perdagangan elektronis / electronic commerce (e-commerce).
Majalah Warta Ekonomi edisi Maret 2001 mencatat ada sedikitnya 900
perusahaan dotcom di Indonesia. Jika rata-rata setiap perusahaan menyerap 50 tenaga
ahli di bidang Telematika, maka 45.000 tenaga kerja telah teserap dalam industri ini.
Sayangnya, seiring dengan surutnya bisnis e-commerce karena di Indonesia dukungan
terhadap infrastruktur informasi masih relatif sedikit, banyak perusahaan dotcom
Indonesia mengikuti jejak rekan rekannya di Amerika dan Eropa, menutup usaha, atau
mengurangi aktivitas bisnisnya
Isu Telematika
Beberapa isu bisnis di bidang Telematika lain yang mewarnai sepanjang tahun
2002 hingga pertengahan 2006 antara lain: munculnya layanan akses Internet yang
diselenggarakan oleh Telkom (Telkomnet Instant) yang dianggap sebagai persaingan
tidak sehat oleh pemilik dan pengelola perusahaan Internet Service Provider (ISP);
munculnya Telkom Flexi yang disusul Indosat dengan StarOne; runtuhnya bisnis
Voice over Internet Protocol (VoIP); masih kuatnya pengaruh pelaku dominan dalam
layanan jasa telekomunikasi; E-Commerce dan E-Business yang tidak berkembang;
mulai maraknya implementasi e-procurement di beberapa perusahaan nasional yang
membawa dampak negatif; masih lambatnya pertumbuhan kuantitas dan kualitas egovernment;
merger operator telekomunikasi; masih kuatnya perilaku monopoli dan
proteksi di tengah perubahan pasar jasa telekomunikasi yang sudah menjadi pasar
kompetitif; interkoneksi antar operator; kode akses menyusul ditetapkannya Indosat
sebagai penyelenggara Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ); penolakan
kepemilikan asing di dalam perusahaan operator telekomunikasi, namun di sisi lain
justru makin bertambah banyak investor asing yang masuk ke Indonesia; dan yang
paling akhir, isu alokasi spetrum frekuensi dan perijinan layanan 3G, serta masih
dinantinya kebijakan tentang penggunaan Wimax.
Peran Telematika
Pembangunan sektor Telematika diyakini akan memengaruhi perkembangan
sektor-sektor lainnya. Sebagaimana diyakini oleh organisasi telekomunikasi dunia,
ITU, yang konsisten menyatakan bahwa dengan asumsi semua persyaratan terpenuhi,
penambahan investasi di sektor telekomunikasi sebesar 1% akan mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3%. Hipotesis ini telah terbukti kebenarannya
di Jepang, Korea, Kanada, Australia, negara-negara Eropa, Skandinavia, dan lainnya.
Mereka telah memberi perhatian besar pada sektor telekomunikasi, sehingga selain
jumlah pengguna telepon (teledensity) meningkat, terjadi pula peningkatan
pertumbuhan ekonomi.
Implikasi sosial dari pemanfaatan Telematika belum dapat dirasakan langsung
oleh kelompok masyarakat miskin atau mereka yang berpenghasilan rendah. Hal ini
dapat dipahami karena daya beli mereka rendah. Telematika belum merupakan
kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap hari. Dalam kondisi ini, bagi golongan
miskin tadi Telematika masih menjadi barang langka, mahal dan tidak berguna.
Manfaat Telematika sudah dirasakan oleh golongan terpelajar, atau mereka yang
berpunya. Pada awal abad milenium ini muncul kecenderungan kuat adanya
ketergantungan terhadap informasi. Penggunaan telekomunikasi dan teknologi
informasi khususnya Internet sebagian besar dilakukan oleh kelompok masyarakat
golongan menengah ke atas. Kondisi kontradiktif dalam pemanfaatan Telematika
memunculkan fenomena yang kaya makin kaya, yang miskin makin terpuruk dan
tambah miskin. Ketidak-tanggapan penentu kebijakan publik di bidang Telematika
terhadap fenomena umum semacam inilah yang kemudian menimbulkan jurang
digital (digital divide).
Jika kontribusi Telematika terhadap perekonomian nasional sudah ada cara
mengukurnya, tidak demikian halnya dengan kontribusi Telematika tehadap
pembangunan dan peningkatan kualitas demokrasi. Bukti empiris menunjukkan
bahwa Telematika telah banyak membantu upaya masyarakat bangsa menuju
demokrasi. Bentuk sederhana keterlibatan Telematika dalam demokrasi antara lain
penggunaan Short Message Service (SMS), Electronic Mail (E-mail), dalam
pendudukan gedung DPR/MPR oleh para aktivis mahasiswa yang berujung pada
runtuhnya rezim Orde Baru. Pengembangan lebih lanjut pemanfaatan Telematika
dalam mendukung upaya pendidikan politik dan demokrasi hanya dibatasi oleh
kemampuan manusia, bukan oleh teknologi itu sendiri. Fakta yang cukup menarik,
belum banyak partai politik yang secara khusus memberi perhatian pada Telematika.
Baik itu pemanfaatan sebagai sarana untuk mengelola organisasi sehingga menjadi
partai modern berbasis teknologi, maupun menggunakan isu-isu kebijakan dan
strategis di seputar Telematika yang dapat menarik simpati masyarakat luas.
Area Kebijakan
Sekali pun kondisi kelembagaan pemerintahan pengelola Telematika belum
memadai, di sisi lain muncul berbagai inisiatif baru yang dikembangkan oleh para
pelaku usaha yang tergolong berusia muda dalam rangka membentuk infrastruktur
informasi alternatif yang meliputi aspek aplikasi, jasa dan infrastruktur fisik. Dari sisi
teknologi terdapat empat area yang dianggap sebagai pendorong yaitu yang berkaitan
dengan bandwidth komunikasi, teknologi peralatan elektronika, teknologi manipulasi
informasi, dan teknologi sistem pembayaran yang dikembangkan secara on-line.
Peluang yang diciptakan oleh penerapan perdagangan elektronis (e-commerce)
adalah terciptanya pasar-pasar baru, produk dan pelayanan baru, proses-proses bisnis
baru yang lebih efisien dan canggih, serta penciptaan perusahaan-perusahaan dengan
jangkauan lebih (extended enterprise). Sedangkan kendala umumnya berkisar pada
masalah bandwidth dan kapasitas jaringan, keamanan, harga teknologi, aksesabilitas,
struktur sosial-ekonomi-demografi, kendala politik dan hukum, sensor, serta edukasisosialisasi
masyarakat.
Perkembangan lingkungan regulasi menunjukkan bahwa Indonesia juga telah
mulai meninjau ulang lingkungan regulasinya. Suatu kerangka regulasi baru di bidang
Telematika sedang dalam proses untuk diundangkan menyusul diskursus yang terjadi
dalam dialog antara pemerintah dan komunitas swasta. Tinjauan ulang regulasi sangat
banyak dipengaruhi oleh manfaat konvergensi Computer-Communications-Content
pada banyak industri yang terkena dampak serta resiko yang diciptakan oleh ecommerce,
seperti misalnya keabsahan dokumen elektronis dan pengaturan hak
kepemilikan intelektual (intellectual property right).
*****
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Direktur INSTEPS dan Ketua MASTEL

Tuesday, February 17, 2009

Testing

Posting ini adalah testing untuk kontribusi pemirsa Klasmaya.

Monday, February 16, 2009

Projek Kolaborasi Pemirsa Klasmaya

Selamat bergabung ....

Bagi anda yang memang menyengaja singgah di situs ini untuk keperluan posting, saya ucapkan selamat bergabung.

Sebagai sister site dari klasmaya, weblog ini diperuntukkan untuk projek kolaborasi dan komunikasi interaktif berbasis Web 2.0. Artinya selama ini media blog hanya dipakai relatif masih satu arah dari saya untuk online klas, situs ini kita siapkan untuk kontribusi dari audiens.

Materi kontribusi sudah tentu tidak jauh dari topik industri telematika. Jadi kalau ada posting yang tidak relevan, mohon maaf akan diedit atau didelete. Materi ini akan memberikan andil dalam aspek diskusi dan keaktifan dalam proses belajar mengajar. Jadi jangan lupa untuk mencantumkan nama jelas sesuai nama yang saya tahu dalam daftar hadir. Kalau toh ada nickname atau alias, sepanjang saya diberi tahu sebelumnya, gak masalah.

Selamat bergabung dan mencoba.

Monday, August 04, 2008

Gile beneeer : Flexi 24 jam Gratis

Dikutip dari situs resmi Telkom

TELKOM Gratiskan Percakapan FLEXI Di Jawa Barat, Banten Dan Jakarta
Jakarta, 4 Agustus 2008 – PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) mengambil kebijakan yang mengejutkan dengan menetapkan harga flat panggilan Flexi ke Flexi Rp 0,- per menit untuk percakapan di wilayah-wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Kebijakan ini diambil tanpa memberlakukan syarat apa pun kepada pelanggan, dan karena menggunakan saluran clear channel, kebijakan ini tidak mensyaratkan pelanggan untuk men-dial kode akses tertentu, meski hubungan melalui kode akses 01017 (saluran VoIP, Voice over Internet Protocol) tetap bisa digunakan dengan biaya Rp 0,- per menit.

Dengan demikian, percakapan antar pelanggan Flexi di Bandung atau dari Bandung ke Jakarta, misalnya, benar-benar gratis dari menit pertama. Demikian juga dari Jakarta ke Tasikmalaya, dari Serang ke Garut, dari Rangkasbitung ke Ciamis, dari Purwakarta ke Cirebon, dan lain-lain tidak akan dikenakan biaya apa pun.

Bahkan, menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, Telkom juga memberlakukan harga Rp 0,- per menit untuk Percakapan dari Flexi ke operator seluler (GSM maupun FWA) – kecuali panggilan ke pelanggan BYRU (0868) – setelah dua menit masa percakapan. “Ini memang sebuah kebijakan drastis yang kami ambil dalam rangka mendongkrak pangsa pasar Flexi di wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten,” ujarnya.

Eddy Kurnia mengatakan, Program Bicara Rp 0,- per menit diharapkan akan mampu mengembalikan posisi Flexi sebagai pemimpin pasar layanan FWA di wilayah Jakarta, Jabar dan Banten.

Paska migrasi frekuensi dari 1.900 MHz ke 800 MHz, menurut Eddy Kurnia, Telkom sering menyelenggrakan gimmick khusus untuk pelanggan Flexi di Jakarta, Jabar dan Banten. “Sejauh ini, berbagai program promosi yang kami lakukan terbukti berdampak positif pada peningkatan jumlah pelanggan,” ujarnya. Apalagi melalui Program Bicara Rp 0,- per menit tanpa syarat dan menggratiskan biaya percakapan Flexi ke operator seluler setelah 2 menit masa percakapan, Eddy optimis Flexi akan kembali memimpin pasar di ketiga wilayah, mengikuti tren yang terjadi di wilayah-wilayah Indonesia lainnya di mana Flexi tampil sebagai pemimpin pasar.

Secara nasional Flexi saat ini tetap memimpin pasar (market leader) dengan jumlah pelanggan mencapai sekitar 7,5 juta. Tercatat setidaknya 265 kota sudah terlayani Flexi. Kota-kota tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Thursday, July 31, 2008

BT Group profit down 35%, revenue edges higher

Tulisan dari situs MarketWatch:
oleh Simon Kennedy
Last update: 2:30 a.m. EDT July 31, 2008

-- U.K. telecom company BT Group (UK:BTA: BT Group plc UK:BTA173.90, -23.90, -12.1%) said Thursday that its fiscal first-quarter net profit fell 35% to 397 million pounds ($786 million) as revenue rose 2.9% to 5.18 billion pounds. Before one-off charges and leaver costs, operating profit rose 4% to 742 million pounds. Growth was driven by 12% higher revenue from major corporate customers, with revenue from retail customers holding flat. The group said its guidance for the year remains unchanged and it still expects to deliver growth in revenue, earnings per share and dividends per share for the year.

Informasinya gak jelas apa profitnya turun 35% dari kuartal sebelumnya apa Year on Year. Tapi turun 35% ini bener-bener parah juga. Kalau revenue naik hanya dibawah 3% tapi profitnya turun lebih dari sepertiga nya yaa pasti dari beban lah yang melonjak. Tapi kalau dilihat dari operating profitnya malah naik 4% artinya beban operasional sudah cukup dihemat. Beban lain-lain kali yang bikin net profit nya nyemplung..

Wednesday, June 04, 2008

Pasar Telekomunikasi Indonesia








Sumber : Pasar telekomunikasi belum jenuh

Pasar telekomunikasi belum jenuh

(dari Bisnis Indonesia)
JAKARTA: Kompetisi di sektor telekomunikasi diprediksi sangat ketat sebelum akhirnya memasuki babak kemapanan.

Wahyu Wijayadi, Direktur Layanan Korporat PT Indosat Tbk, menuturkan industri seluler pada saatnya memasuki babak kemapanan dan tekanan kompetisi di industri seluler akan semakin berat.

"Tekanan berat ini terutama bagi pendatang baru dan pemain di luar tiga besar operator [the big three]," ujarnya di sela-sela diskusi Telekomunikasi Untuk Indonesia Sejahtera di Jakarta, baru-baru ini.

Pertumbuhan pasar seluler di Indonesia saat ini ditandai dengan pertumbuhan pengguna yang tumbuh dua kali lipat dalam kurun waktu 20 bulan dan dengan rata-rata pertumbuhan tahunan lebih dari 55%. Sampai dengan triwulan I/2008, penetrasi nirkabel telah mencapai 48%.
Berdasarkan data JP Morgan, penetrasi tersebut masih jauh dibandingkan dengan Filipina yang telah mencapai 60%, Thailand 83%, dan Malaysia 84% pada akhir tahun 2007.
Pasar telekomunikasi Indonesia saat ini mencapai 120,6 juta di mana layanan GSM mendominasi dengan pangsa pasar 79,8%, diikuti layanan CDMA 13%, dan telepon tetap 7,2%.

Dalam perkembangan ke depan, dia memprediksi Internet dan broadband nirkabel akan semakin berkembang meskipun tidak secepat seluler. "Aplikasi yang akan langgeng adalah aplikasi lokal," tuturnya.

Peluang konsolidasi
Wahyu tidak menampik prediksi yang berkembang tentang kemungkinan sejumlah operator seluler melakukan konsolidasi. "Konsolidasi di antara operator mungkin terjadi tetapi dilakukan dengan setengah hati."

Konsolidasi dinilai menjadi episode yang menarik dalam perkembangan industri seluler di Indonesia ke depan karena penggabungan perusahaan telekomunikasi akan saling melengkapi.
"Namun ini akan setengah hati karena pertanyaan berikutnya adalah [operator mana] mau dijual ke siapa dan bentuknya seperti apa, [dengan model bisnis yang sama] tentu ini akan memunculkan kreativitas," ujarnya.

Dia menyimpulkan industri telekomunikasi di Indonesia masih memiliki potensi pasar yang besar, sangat kompetitif dan sangat vital mendukung sektor dan industri lain.
Pertumbuhan sektor telekomunikasi yang pesat dan membutuhkan belanja modal yang besar masih membutuhkan perlindungan hukum dan dukungan regulasi yang juga kondusif.
Mira Tayyiba, Kasubdit Postel dan Informatika Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, menuturkan sasaran pembangunan pos dan telematika 2004-2009 secara khusus adalah tercapainya teledensitas sambungan tetap sebesar 13% dan teledensitas telepon bergerak 20%.
Dia juga menggarisbawahi sasaran lainnya adalah penyelesaian pembangunan peran swasta dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.

Dari struktur kapasitas pembiayaan pada tahun 2007, misalnya, pembiayaan pembangunan sektor pos dan telematika dari anggaran pendapatan belanja dan negara melalui Depkominfo mencapai Rp2,45 triliun.

Telkom memberi kontribusi Rp27,3 triliun, Indosat Rp9,12 triliun dan XL mencapai Rp6,38 triliun. Tahun ini saja, APBN mengalokasikan Rp2,1 triliun, sementara kontribusi Telkom diperkirakan mencapai Rp20,5 triliun dan ini belum ditambah oleh operator lainnya.

(roni.yunianto@bisnis.co.id)
Oleh Roni YuniantoBisnis Indonesia

Wednesday, October 26, 2005

Who will win out?

By Steve Taylor and Larry Hettick
NETWORK WORLD NEWSLETTER

Authors' note: The names in today's transcript have been changed to protect the innocent. The wireless advocate has been re-named "Tom," the wireline advocate has been renamed "Sue." The conversation about fixed/mobile convergence you are about to read was recently held in the hallways of a major industry analyst firm.

Tom: You know, Sue, that wireless connections will eventually replace all wireline connections. The landline PC connection is dead, and the wide-area landline market is dying. The cellular handset is rapidly replacing the desktop and home phone.

Sue: Obviously, Tom you don't have a clue and neither do the mobile phone companies. Those mobile companies still think that just giving the customer a broadband Internet connection will solve all their enterprise data needs. Have they even considered offering a business application bundled with their broadband service?

Tom: Businesses don't want any service provider to touch applications - all they need is connectivity back to the corporate servers that supply the business applications. And speaking of applications, those wireline phone companies have completely ignored bundling consumer applications, like interactive gaming, with their local loop.

Sue: Oh, really Tom? What about IP-TV? Have you forgotten that wireline companies offer television over phone lines? They even have hosted call-center applications for the enterprise included as a service.

Tom: IP-TV? Is that the best you can do? My mobile provider offers me on-demand video news feeds whenever and wherever I want. And if the business absolutely insists on support for a mobile application, how will your wireline network support tracking inventory and delivery support from factory to truck to customer?

Sue: Well, one thing's for sure, Tom. My reliable wireline network won't ever run out of transmission capacity because it doesn't depend on finite radio spectrum. And, unlike my cell phone, I never get a "searching for network" message on my desktop phone.

Author's note to readers: Who's right? Tom or Sue? Who will win the battle for applications delivery to the consumer? Who will win the battle for applications delivery to the enterprise?

Monday, September 19, 2005

Baidu.com



Search engine paling popular di China, Baidu.com, saat ini banyak diperbincangkan orang. Saham Baidu.com yang yang bulan lalu listed di Nasdaq, bursa-nya perusahaan non traditional, sudah mencapai angka US$87 juta. Pertanyaannya kenapa perusahaan search engine berbahasa China ini punya persepsi yang cukup bagus buat investor ?

Beberapa alasan antara lain :

  1. Menurut survey China Internet Network Information Center yang dilakukan di tiga kota besar China, saat ini Baidu.com mendominasi pasar dengan angka 47.8% dibandingkan Google di angka 33% sisanya dibagi kecil-kecil untuk Sohu, Sina termasuk Yahoo.
  2. Meski konsumer China relative tidak lebih berduit dibanding konsumer US atau Eropa, namun ada sekitar 1,3 milyard populasi China dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 9% pertahun. Diperkirakan sekitar 30 juta yang masuk golongan kelas menengah keatas, khususnya di kota Shanghai dan Guangzhou, menjadi potensial konsumer di bisnis internet sebagai pembeli barang-barang mewah. Angka itu bisa tumbuh menjadi 100 juta dalam 3 tahun kedepan yang mampu melebihi Jepang.
  3. Meski pendapatan Baidu di US$8.4 juta masih jauh dibanding Google (US$1.38 milyar), Baidu masih menjadi situs berbahasa China yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia (termasuk penduduk Chinatown di banyak kota besar dunia). Google pun memiliki beberapa saham di Baidu.com meski tidak disebutkan berapa persen.
  4. Koneksi dengan perusahaan lokal dan bisnis rumahan menjadi keunggulan Baidu yang tidak mensyaratkan kartu kredit untuk pembelian dibandingkan Google. Pendapatan Google di China tahun lalu masih dibawah US$6.1 juta, karena konsumer harus menggunakan kartu kredit sementara orang China jarang menggunakan kartu kredit.
  5. Baidu lebih terbiasa dengan aturan sensor pemerintah terkait dengan issue politik, namun untuk sebagian pengguna internet di China yang serius di bisnis justru diuntungkan dengan hasil searching yang lebih fokus dibandingkan search engine lain yang seringkali memunculkan seluruh kemungkinan pencarian meski tidak relevan.

(dicuplik dari berita - Baidu: Not Just "China's Google" ).

Kesimpulannya, faktor jumlah penduduk yang potensial masih dominan untuk bisnis semacam Baidu.com. Tidak saja jumlah populasi yang besar namun diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Mungkin seperti juga bisnis lain (contoh seluler) setelah sukses di China, India bisa menjadi pasar bagus. Sehingga portal berbahasa India bisa jadi punya persepsi bagus, apalagi penduduk India yang merantau ke negara lain juga cukup banyak. Selain aspek bahasa, kebiasaan penggunanya juga harus menjadi perhatian.

Bagaimana dengan Indonesia ? aspek populasi cukup mendukung, namun bagaimana dengan aspek daya beli ? Apalagi melihat kebiasaan pengguna kita yang cenderung mencari yang gratisan. Lalu, strategi apa yang musti dilakukan untuk portal Indonesia, Plasa.com misalnya ...

Friday, June 10, 2005

INDOSAT AGMS APPROVED THE DIVIDEND
FOR YEAR 2004 OF Rp154.23/SHARE AND
APPOINTED BOARD OF DIRECTORS FOR PERIOD 2005-2010


Jakarta, June 8, 2005 PT Indosat Tbk ("Indosat" or the "Company") today held its Annual General Meeting of Shareholders ("AGMS" or the "Meeting") at the Company’s Auditorium in Indosat Building Jakarta. The Meeting was chaired by Mr. Peter Seah, President Commissioners of Indosat and attended by shareholders and their proxies representing more than 75% of the paid-in shares.

At the AGMS, Indosat’s shareholders approved the following resolutions:
1. Annual Report and Audited Financial Statements for year ended 31 December 2004.
2. Allocation of net profit for reserve, reinvestment and declare dividend for year 2004 of Rp154.23 per share.
3. Remuneration of BoC for year 2005 and bonus for year 2004.
4. Appointment of Prasetio, Sarwoko & Sandjaja, a member of Ernst & Young Global as the Company’s Independent Auditor for year ended 31 December 2005.
5. Appointment of the Board of Directors, including the President Director, and change the composition of the Board of Commisioner.


Effective from the closing of the AGMS, Indosat’s Board of Directors for the period until the closing of AGMS on 2010 and the Board of Commisioner for the period until the closing of AGMS on 2008 are as at the attachment.

At the meeting, shareholders also approved the dividend payout for year 2004 of 50% or Rp154.23 per share. Schedule and arrangement for the dividend payment will be announced in the media on 10 June 2005.

Indosat is a leading telecommunication and information provider that offers:
cellular services (Mentari, Matrix and IM3), IDD services (IDD 001, IDD 008 and FlatCall 016), and fixed wireless services (StarOne), Multimedia, Data communications and Internet services (MIDI). Indosat's shares are listed on the Jakarta and Surabaya Stock Exchange (JSX:ISAT) and its American Depository Shares are listed on the New York Stock Exchange (NYSE:IIT).

Indosat’s Board of Directors for the period 2005 - 2010 are :
(i) Mr. Hasnul Suhaimi, President Director
(ii) Mr Ng Eng Ho, Deputy President Director
(iii) Mr. Johnny Swandi Sjam, Consumer Marketing Director
(iv) Mr. Wahyu Wijayadi, Corporate Market Director
(v) Mr. Wityasmoro Sih Handayanto, Planning and Project Development Director
(vi) Mr. Raymond Tan Kim Meng, Network Operation and Quality Management Director
(vii) Mr. Joseph Chan Lam Seng, Information Technology Director
(viii) Mr. Wong Heang Tuck, Finance Director
(ix) Mr. S. Wimbo S. Hardjito, Corporate Services Director

Indosat’s Board of Commisioners for the period 2004 – 2008 are:
(i) Mr. Peter Seah Lim Huat, President Commisioner
(ii) Mr. Lee Theng Kiat, Commisioner
(iii) Mr. Sio Tat Hiang, Commisioner
(iv) Mr. Sum Soon Lim, Commisioner
(v) Mr. Roes Aryawijaya, Commisioner
(vi) Mr. Setyanto P. Santosa, Commisioner
(vii) Mr. Lim Ah Doo, Independent Commisioner
(viii) Mrs. Eva Riyanti Hutapea, Independent Commisioner
(ix) Mr. Soeprapto, Independent Commisioner

Kick Off The Blog

Yaachh.......
Hari ini 10 Juni, jam 16:00 WIB secara resmi blog site ini dibuka.
Terima kasih kepada blogger untuk penyediaan media.

Obrolan Bisnis Telekomunikasi, merupakan Blog spot kedua yang saya coba kelola. Blog pertama meski bermaksud meng-global namun cenderung "prudent" dari aspek linguistik.

Semoga dengan media ini, obrolan bisa lebih produktif, kaya ide, dan sedikit lepas dengan tetap menjaga dari hal-hal yang "out of scope". Segala bentuk material terkait dengan obrolan akan dituangkan melalui media ini. Sudah tentu diskusi, komentar, sanggahan, kritik dan masukan apapun kami tampung.

Siap, jangkar lepas... Gooo....